Beranda > Eco, Energi, Kendaraan, Teknologi > Bike 2.0 – Sebuah Revolusi

Bike 2.0 – Sebuah Revolusi

Sepeda adalah kendaraan yang tak lekang dimakan zaman. Sejak dulu sampai sekarang, di Indonesia ini terutama, sepeda masih banyak digunakan orang di mana-mana, entah mereka menggunakannya sebagai kendaraan ke kantor, ke kampus, atau jalan-jalan di sekitar kos. Bahkan ada tempat-tempat persewaan sepeda yang sengaja menyewakan sepeda untuk anak-anak muda berjalan-jalan keliling kota.

Meski motor dan mobil semakin banyak, inovasi teknologi semakin berkembang, sepeda tak pernah hilang dari peradaban masyarakat Indonesia. Apalagi di luar negeri. Banyak negara-negara lain yang justru masyarakatnya tiap hari menggunakan sepeda sebagai kendaraan mereka. Itulah sepeda, terus ada sepanjang masa.

Seoul, kota dengan penduduk terbanyak nomor 8 sedunia (Jakarta nomor 10)[1] ini, mengadakan lomba desain sepeda pada bulan April lalu, ditujukan bagi desainer dari seluruh dunia, untuk menciptakan sebuah sepeda yang bisa membantu mengubah image kota mereka dari ‘hard’ city menjadi ‘soft’ city. Sepeda bisa menjadi icon “healthiness” dan “eco-friendliness”, inilah desain yang diharapkan bisa terwujud dari diadakannya kontes ini.

Kontes yang ditutup pada 5 Juli ini akhirnya mengumumkan pemenangnya pada 19 September lalu. Dari 3078 desainer dari 88 negara, pemenangnya jatuh ke Bike 2.0 hasil karya Nils Sveje (inoda sveje design studio). Bike 2.0 ini menggunakan teknologi IPU dari Italia.

Bike 2.0 adalah sebuah konsep sepeda yang menggabungkan antara bentuk dan teknologi, nilai modern dan nilai sejarah. Desainnya yang futuristik menunjukkan kelebihannya: bersih; eco-friendly; modern. Bike 2.0 sangat tepat untuk digunakan sebagai pengganti sepeda biasa, motor, atau bahkan mobil.

Sekilas Mengenai Cara Kerja Bike 2.0[2]

Berbeda dari sepeda biasa, ada komponen-komponen pada sepeda biasa yang tidak terdapat di Bike 2.0, namun diganti oleh komponen-komponen lain yang memiliki cara kerja yang berbeda pula.

Cara kerja sepeda pada umumnya: Pedal dikayuh, energi kinetik dari kaki kita langsung digunakan untuk menggerakkan roda belakang melalui rantai.

Cara kerja Bike 2.0: Pedal dikayuh, energi kinetik dari kaki kita masuk ke generator yang terdapat pada Crank-set sepeda dan diubah menjadi energi listrik. Melalui kabel yang terdapat di dalam bodi sepeda, energi listrik dialirkan menuju as roda belakang yang di dalamnya terdapat motor (aliran ini disebut sebagai transmisi listrik). Motor ini berfungsi untuk mengubah energi listrik kembali menjadi energi kinetik yang akhirnya akan memutar roda belakang sepeda. Hmm… Cukup asik dibandingkan sepeda pada umumnya.

Gambar di atas menunjukkan energi yang diperlukan untuk mengayuh Bike 2.0 dibandingkan dengan mengayuh sepeda biasa (warna hijau menunjukkan Bike 2.0).

Tambahan energi bisa didapatkan dari baterai (opsional) yang ditaruh di bawah sadel. Selain itu, untuk kenyamanan pengendara, mengingat tinggi dan berat badan orang berbeda-beda, panjang pendek sepeda juga bisa diatur melalui frame seperti yang ditunjukkan pada gambar. (Klik gambar untuk melihat dalam ukuran sesungguhnya)

Salah satu teknologi yang digunakan Bike 2.0 adalah superkapasitor. Superkapasitor bisa berfungsi sebagai penambah energi meskipun sepeda dalam keadaan tanpa baterai.

Pada kedua stang, terdapat masing-masing fungsi. Pada salah satunya, ada ring yang berfungsi untuk mengatur gear, pada stang yang lain, terdapat ring yang digunakan untuk mengatur berapa energi yang ingin kita gunakan dari baterai atau berapa banyak kita ingin mengecas baterai. Lalu kapan kita mengecas baterai? Ketika kita mengerem laju sepeda. Bike 2.0 menggunakan coaster brake atau yang lebih dikenal sebagai rem torpedo di negeri kita. Ketika kita mengerem, otomatis baterai akan terisi (berapa terisinya, penulis tidak tahu).

Itulah sedikit penjelasan dari konsep kerja Bike 2.0, sebuah sepeda yang eco-friendly, unik, futuristik, sederhana, efektif, dan memiliki nilai estetika yang tinggi. Yang penulis pikirkan adalah…apakah Bike 2.0 nanti diproduksi massal dan akhirnya sampai ke Indonesia? Lalu, berapa harganya?

Atau…Akan ada putra Indonesia yang membuat terobosan yang lebih hebat, Bike 3.0 misalnya? Hmm…

Sumber: Seoul Cycle Design Competition, Wikipedia, Design Boom, Inoda Sveje Design Studio-Bike 2.0.

Sumber gambar: Inoda Sveje Design Studio

——————————-

[1] Daftar Kota Menurut Jumlah Populasi
[2] Berdasarkan simpulan yang didapat oleh penulis dari baca-baca, googling, wikipediing.

Iklan
  1. Belum ada komentar.
  1. 20 Desember 2010 pukul 5:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: