Arsip

Archive for Maret, 2011

Setting adb di Linux Ubuntu

26 Maret 2011 5 komentar

Untuk membuat perintah adb (android debugging bridge) bekerja di Ubuntu, tidak perlu repot-repot download Android SDK yang memiliki ukuran cukup besar. Cukup file adb yang berukuran kurang dari setengah MB yang kita butuhkan. Demikian pula di posting sebelumnya, mengenai setting adb di Fedora, langkah-langkah tersebut terlalu menghabiskan waktu dan tenaga ketika yang kita butuhkan hanya adb semata.

File yang kita butuhkan hanya file “adb” yang berasal dari folder platform-tools dalam folder Android SDK. adb bisa diunduh di sini.

Pastikan file adb yang akan digunakan dapat dieksekusi (adb yang kusediakan di sini belum bisa dieksekusi). Untuk mengecek, klik kanan pada file adb, kemudian lihat Properti. Lihat pada tab Hak Akses, pastikan “Eksekusi berkas sebagai program” sudah tercentang. Jika adb belum bisa dieksekusi, maka pada saat kita memasukkan perintah adb pada terminal, akan muncul tulisan permission denied atau yang semacam itu.

Copy file adb tersebut di /bin/, dengan perintah di terminal seperti berikut:

sudo cp <lokasi di mana file adb berada> /bin/

Misal file adb berada di /home/user/Downloads/, maka perintahnya:

sudo cp /home/user/Downloads/adb /bin/

Sekali lagi pastikan adb sudah dalam keadaan bisa dieksekusi. Langkah berikutnya adalah membuat file yang diberi nama 51-android.rules dan ditaruh di /etc/udev/rules.d/. Cara membuatnya, buat file dengan nama tersebut di direktori mana saja, terserah. Kemudian kita edit dengan gedit atau text editor apapun, masukkan kode di bawah ini ke dalamnya:

SUBSYSTEM=="usb", ATTRS {idVendor}=="0489", MODE="0666"

Kemudian save. Lalu baru dipindahkan ke /etc/udev/rules.d/. Kemudian kita restart udev. Misalnya file 51-android.rules kita ada di /home/user/, maka perintah dalam terminalnya sebagai berikut:

sudo cp /home/user/51-android.rules /etc/udev/rules.d/
sudo /etc/init.d/udev restart

Selesai. Sekarang ketika kita membuka terminal dan mengetikkan adb devices ketika hp sedang dicolokkan ke komputer, maka hp akan terdeteksi.

Catatan

File 51-android.rules di atas berisi tulisan SUBSYSTEM==”usb”, ATTRS {idVendor}==”0489“, MODE=”0666”

Angka yang berwarna merah di atas adalah ID vendor hp kita, dan berlainan antara satu hp dan hp lainnya. Di sini aku menggunakan hp NEXIAN JOURNEY. Untuk hp yang lain, bisa diganti dengan angka yang sesuai. Cara mengetahui ID yang tepat adalah dengan mengetikkan lsusb di dalam terminal ketika hp dalam keadaan terhubung ke komputer. Maka akan muncul tulisan semacam ini:

Bus 007 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 006 Device 003: ID 15d9:0a4c Trust International B.V. 
Bus 006 Device 002: ID 05e3:0606 Genesys Logic, Inc. USB 2.0 Hub / D-Link DUB-H4 USB 2.0 Hub
Bus 006 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 005 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 004 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 003 Device 001: ID 1d6b:0001 Linux Foundation 1.1 root hub
Bus 002 Device 008: ID 0489:c001 Foxconn / Hon Hai 
Bus 002 Device 004: ID 12d1:1001 Huawei Technologies Co., Ltd. E620 USB Modem
Bus 002 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub
Bus 001 Device 002: ID 04f2:b026 Chicony Electronics Co., Ltd 
Bus 001 Device 001: ID 1d6b:0002 Linux Foundation 2.0 root hub

Nah, ID vendor pada masing-masing hp bisa disesuaikan dengan kode yang muncul pada baris di atas sesuai dengan vendor hp yang dimilikinya.

Brem, Android, dan Open Source

Brem. Itulah ROM yang kupakai sekarang. ROM khusus untuk Nexian Journey dan semisalnya, buatan TJ Style. ROM tersebut sudah memiliki fitur-fitur tambahan dibandingkan stock ROM, seperti a2sd dan aplikasi Torch. Cukup untuk menggantikan ROM Froyo Apanda yang sebelumnya kupakai.

Bicara soal Brem, kenapa aku memilih untuk memakainya, beberapa di antaranya adalah manajemen baterai yang lumayan (menurutku), fitur a2sd, dan torch. Hanya saja,  satu pertanyaan yang aku belum mengerti jawabannya mengenai fitur a2sd. Beberapa hari lalu, aku mencoba untuk safely remove sdcard, kemudian mengeluarkan sdcard dari hp. Tapi yang terjadi kemudian, hp meredup lalu mati. Ketika hidup kembali, kondisinya sudah seperti di-factory reset, sehingga aplikasi-aplikasi yang sebelumnya sudah kuinstall hilang semua. Tapi itu tidak masalah, karena aku sudah mem-backup semua aplikasi dengan MyBackup Root, sebuah tool yang cukup berguna untuk backup aplikasi dalam sekali langkah dan mengembalikannya pula hanya dengan sekali langkah, berbeda dengan Titanium Backup yang harus klik berkali-kali untuk me-restore banyak aplikasi.

Namun, lebih dari itu semua, Brem berisi aplikasi-aplikasi yang benar-benar free, dia tidak menyertakan aplikasi yang seharusnya berbayar namun dimasukkan ke dalamnya. Kenapa ini penting buatku? Karena Android adalah software open source, software legal yang akan tetap legal meskipun kau oprek isinya hingga menjadi sebuah ROM baru yang sama sekali berbeda, SELAMA, kau tidak memasukkan aplikasi berbayar di dalamnya. Bicara Android adalah bicara open source, bicara soal ke-legal-an sebuah operating sytem.

Inilah yang kusayangkan dari beberapa pengembang ROM, dari beberapa pengembang aplikasi, dan dari orang-orang yang kurang mengerti apa itu open source. Aplikasi yang dibuat seseorang, dan itu diperuntukkan bagi orang-orang yang mau membayar, adalah bukan hak kita jika kita tidak mau membayarnya. Itulah semangat open source. Semangat untuk menggunakan software legal. Dan itulah yang kurang disadari oleh beberapa orang di muka bumi ini. Menyebarkan aplikasi-aplikasi gratis di situs-situs umum agar bisa diakses oleh banyak orang. Padahal pembuat aplikasi ingin agar aplikasi berbayar yang dibuatnya diunduh secara legal oleh pengguna Android, dibayar dengan harga yang sudah ditentukan.

Dan sayangnya, aku merasa banyak sekali teman-teman kita orang Indonesia, memiliki karakter “pembajak” seperti yang telah aku ungkapkan di atas.

 

Sebuah tulisan ringan di saat diri ini mencoba untuk menemukan apa yang hilang dari dirinya, mencoba menyeruak dari tumpukan kebingungan-kebingungan yang telah lama menjamur di sudut kepala.

%d blogger menyukai ini: